Rabu, 05 November 2014

Misteri 3 Kartu Jokowi:

Misteri 3 Kartu Jokowi:

1. Tiba-tiba muncul, tanpa pernah kita tahu prosesnya seperti apa.
2. Pendanaannya tidak jelas dari mana.
3. Belum ada landasan hukumnya.

Bahkan DPR pun belum tahu apa-apa mengenai Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) tersebut.

Hadirnya ketiga kartu ini secara mendadak, sangat cepat, tanpa jelas asal-usulnya, menimbulkan kesan bahwa ketiganya SUDAH DIPERSIAPKAN SEJAK LAMA.

Padahal Jokowi baru menjabat sebagai presiden selama 16 hari.

Aneh sungguh aneh!

sumber: https://www.facebook.com/jonru.page/posts/10152841544589729

MoU dengan China Para Menteri Ekonomi Ramai-Ramai Tutup Mulut


Hidayatullah.com–Kementerian BUMN, PT KAI dan perusahaan China International Fund (CIF) Senin (03/11/2014) hari ini mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) atau kerjasama terkait perkembangan perkeretapian di Indonesia.

Kerjasama ini dihadiri oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, Dirut PT KAI Edi Sukmoro, Dirut PLN Nur Pamudji, Menteri Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan serta rombongan dari CIF. Namun, ketika ditanya, bos-bos ini sepakat untuk pelit bicara.

Menariknya, awak pers tidak ada yang diperbolehkan menyaksikan MoU tersebut, dan beberapa direktur utama serta menteri tidak ada yang memberikan komentar.

“Saya enggak mau ngomong, saya buru-buru. Yang pasti nanti siang saya ngomong,” ujarnya seraya buru-buru masuk mobilnya di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (03/11/2014) dikutip Sindonews.

Hal senada juga diucapkan beberapa menteri yang hadir seperti Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menko Perekonomian Sofyan Djalil.

“Saya enggak tahu, saya cuma hadir. Tanya Bu Rini saja,” ujar Jonan singkat.

Serupa dengan dirut-dirut BUMN lainnya, mereka juga seolah enggan memberikan komentar dan terlihat lebih baik menghindar dari awak media.

“Saya enggak tahu, hanya menyaksikan, hari ini buntu telinga saya,” ujar Dirut PT PLN Nur Pamudji.

Aksi enggan bicara juga dilakukan Dirut Jasa Marga Adityawarman dan Dirut PT KAI yang langsung berlalu begitu saja dari kejaran awak media.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pun juga bersikap demikian.

“Saya enggak tahu, tanya ke Menteri BUMN saja,” ucapnya sambil berlalu.*

Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Foto: MoU dengan China Para Menteri Ekonomi Ramai-Ramai Tutup Mulut

Hidayatullah.com–Kementerian BUMN, PT KAI dan perusahaan China International Fund (CIF) Senin (03/11/2014) hari ini mengadakan Memorandum of Understanding (MoU) atau kerjasama terkait perkembangan perkeretapian di Indonesia.

Kerjasama ini dihadiri oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, Dirut PT KAI Edi Sukmoro, Dirut PLN Nur Pamudji, Menteri Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan serta rombongan dari CIF. Namun, ketika ditanya, bos-bos ini sepakat untuk pelit bicara.

Menariknya, awak pers tidak ada yang diperbolehkan menyaksikan MoU tersebut, dan beberapa direktur utama serta menteri tidak ada yang memberikan komentar.

“Saya enggak mau ngomong, saya buru-buru. Yang pasti nanti siang saya ngomong,” ujarnya seraya buru-buru masuk mobilnya di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (03/11/2014) dikutip Sindonews.

Hal senada juga diucapkan beberapa menteri yang hadir seperti Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dan Menko Perekonomian Sofyan Djalil.

“Saya enggak tahu, saya cuma hadir. Tanya Bu Rini saja,” ujar Jonan singkat.

Serupa dengan dirut-dirut BUMN lainnya, mereka juga seolah enggan memberikan komentar dan terlihat lebih baik menghindar dari awak media.

“Saya enggak tahu, hanya menyaksikan, hari ini buntu telinga saya,” ujar Dirut PT PLN Nur Pamudji.

Aksi enggan bicara juga dilakukan Dirut Jasa Marga Adityawarman dan Dirut PT KAI yang langsung berlalu begitu saja dari kejaran awak media.

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pun juga bersikap demikian.

“Saya enggak tahu, tanya ke Menteri BUMN saja,” ucapnya sambil berlalu.*

Rep: Anton R
Editor: Cholis Akbar

Sumber berita >> http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2014/11/03/32538/mou-dengan-china-para-menteri-ekonomi-ramai-ramai-tutup-mulut.html